PADANG — PT Pertamina Patra Niaga Regional Sumatera Barat masih melakukan pendataan terhadap kendaraan yang mengalami gangguan mesin setelah mengisi BBM jenis Pertalite di sejumlah SPBU. Hingga tahap awal pendataan, tercatat sebanyak 108 unit mobil dilaporkan mengalami kerusakan atau gangguan teknis yang diduga berkaitan dengan penggunaan bahan bakar tersebut.
Seiring meningkatnya jumlah laporan masyarakat, Pertamina mulai mengkaji kemungkinan skema kompensasi atau penggantian biaya perbaikan kendaraan. Namun, kebijakan tersebut masih menunggu hasil investigasi dan verifikasi data yang saat ini terus berlangsung.
Sales Area Manager Retail Sumbar Pertamina Patra Niaga, Fakhri Rizal Hasibuan, mengatakan fokus utama perusahaan saat ini adalah memastikan validitas laporan konsumen serta menginventarisasi jumlah kendaraan yang benar-benar terdampak.
“Arah ke sana (ganti rugi) ada, tetapi saat ini masih dalam tahap kajian. Kami sedang mendata dan memverifikasi seluruh kendaraan yang dilaporkan mengalami kendala,” ujarnya, Selasa (29/9/2026).
Menurut Fakhri, angka 108 kendaraan tersebut masih bersifat sementara dan berpotensi bertambah seiring berlanjutnya proses pendataan. Karena itu, masyarakat yang mengalami keluhan setelah mengisi Pertalite diminta segera melaporkan kejadian yang dialami melalui saluran resmi Pertamina.
Laporan dapat disampaikan melalui Call Center Pertamina 135, posko pengaduan yang disiapkan di SPBU, maupun langsung ke SPBU tempat pengisian BBM dilakukan. Pendataan ini mencakup seluruh jenis kendaraan, termasuk sepeda motor yang tidak menggunakan transaksi berbasis barcode.
Untuk memastikan keterkaitan antara kendaraan dan lokasi pengisian BBM, Pertamina juga melakukan penelusuran melalui rekaman kamera pengawas (CCTV) di SPBU yang diduga menjadi titik pengisian bahan bakar kendaraan terdampak.
“Kami akan melakukan tracing melalui rekaman CCTV yang tersedia di SPBU guna memastikan data transaksi dan keberadaan kendaraan,” jelasnya.
Di tengah proses investigasi yang masih berjalan, sorotan publik terhadap kualitas BBM Pertalite yang beredar di Sumatera Barat terus menguat. Berbagai kalangan mendesak Pertamina agar membuka hasil pengujian laboratorium secara transparan guna menjawab keresahan masyarakat dan menghindari spekulasi yang berkembang.
Meski demikian, sejumlah pengamat otomotif mengingatkan agar penyebab gangguan kendaraan tidak langsung dikaitkan dengan kualitas bahan bakar. Gejala seperti mesin tersendat, sulit dihidupkan, hingga kehilangan tenaga (loss power) juga dapat dipengaruhi oleh kondisi teknis kendaraan, sistem pembakaran, filter bahan bakar, maupun komponen mesin yang telah mengalami keausan.
Hingga kini, Pertamina masih melanjutkan investigasi lapangan dan pengujian teknis untuk memastikan penyebab pasti gangguan yang dilaporkan masyarakat. Hasil pemeriksaan tersebut nantinya akan menjadi dasar dalam menentukan langkah penyelesaian, termasuk kemungkinan pemberian kompensasi kepada konsumen yang terbukti terdampak.
